Kamis, 17 Oktober 2013 - 10:41:10 WIB
Hatta: Tiga Pilar Utama Selesaikan Permasalahan Sawit
Diposting oleh : Administrator
Kategori: Kementrian BUMN - Dibaca: 606814 kali

Hatta: Tiga Pilar Utama Selesaikan Permasalahan Sawit
Jakarta, GARAnews - Pemerintah memiliki tiga pilar utama untuk menuntaskan permasalahan sawit nasional, yang masih menjadi pekerjaan rumah alias PR. "Ada 3 pilar utama yang perlu kita kerjakan," kata Menteri Koordinator Perekonomian, Hatta Rajasa, saat membuka Palm Oil Industry Development Conference 2013, di Grand Melia, Jakarta Selatan, Rabu (16/10).

Ketiga pilar tersebut, kata Hatta, pertama; sustainability (keberlanjutan), yakni penyelesaian masalah itu mempunyai konsep dan strategi pada sistem sustainability depelovment yang terdiri dari 3 aspek. "Pertama, pembangunan untuk masyarakat kini tanpa mengabaikan masyarakat mendatang, kedua; lingkungan, dan ketiga; isu sosial. Oleh sebab itu, isu-isu ini harus kita selesaikan," tandasnya.

Adapun pilar kedua, yakni harus mengacu pada role depelovment pedesaan. Menurutnya, pemerintah dan semua elemen terkait telah sepakat dan berhasil membuktikannya. "Kita sudah sepakati dan kita sudah berhasil, kita buktikan dan harus dilakukan 2014 nanti. Sawit justru meningkatkan pembangunan pedesaan yang diukur dari regional depelovment atau GDP daerah. Jadi, pendapatan daerah itu meningkat, baik dari tingkat pengangguran menurun, kurangi kemiskinan dengan membuka jutaan lapangan kerja," papar Hatta.

Menurutnya, sektor perkebunan dan industri kelapa sawit telah mengurangi kemiskinan. Bahkan bukan hanya itu, akibat sektor ini juga diikuti berbagai perkembangan dan kegiatan ekonomi lainnya, yang juga menyerap tenaga kerja dan menumbuhkan perekonomian.

"Keberadaan sawit ini bisa mengurangi kemiskinan dengan membuka jutaan lowongan kerja, baik juga perumahan, irigasi, air bersih, sekolah. Jadi, semua itu dampak dari pembangunan sawit kita itu sendiri. Kalau pekerjaan itu kita kerjakan, maka negatif isu itu akan kita hilangkan," tandas Hatta.

Adapun pilar ketiga, yakni pendekatan teknologi dan adopsi inovasi. Hatta mengatakan, dengan teknologi, maka semua yang dihasilkan kelapa sawit dapat dimanfaatkan. Contohnya, dari limbah pengolahan kelapa sawit yang menghasilkan gas metan. "Gas metan ini yang dulu terbuang kita tangkap dengan alat, bisa membran atau bisa segala macam, sehingga bisa dipakai untuk pembangkitkan listrik. Untuk 60 ton tandan buah segar per jam yang diproses, menghasilkan 2 MW listrik. Ini sesuatu yang positif," ucap Hatta.

 Namun demikian, untuk mewujudkan itu, semua pihak harus bersinergi. "Menurut saya, ini hanya bisa kita lakukan jika kita bersama, perdagangan jangan jalan sendiri, pertanian, perindustrian, Ristek. Ini kita bikin grand strategi dalam hadapi tantangan tersebut. Selepas ini, saya akan pimpin rapat koordinasi dengan sejumlah pihak utuk mewujudkan itu," tandasnya.

 Hatta menyebutkan, tantangan sawit Indonesia ada dua, pertama; adanya kampanye negatif pihak atau negara tertentu agar hasil produksi kelapa sawit nasional tidak laku di pasaran. "Kedua, bagaimana kita hadapi persaingan, karena negara-negara maju itu tidak diam dan akan terus menggenjot produktivitasnya."

 Menurutnya, dengan pendekatan dan pemanfaatan teknologi, seperti genetic modificate atau teknologi genetik, diharapkan bisa meningkatkan produktivitas sawit dalam negeri. "Kita tidak boleh lengah, dan alhamdulillah taraf riset kita sendiri sudah mampu meningkatkan dari 3 ton menjadi 7 ton per hektare."

 Selain itu, dalam mengatasai berbagai permasalahan bidang kelapa sawit dalam negeri, juga harus berkolaborasi dengan negara-negara penghasil sawit dunia.

"Jadi, gerakan ini total footbal, tidak bisa sendiri-sendiri dan tidak sedikit-sedikit. Kalau orang hantam kita, misalkan dengan membuat label seperti yang dilakukan penghasil cokelat, Sawit ini dari Malaysia. Itu secara tidak langsung katakan, sawit kita tidak layak di makan," nilai Hatta.

Untuk menjawab tudingan tersebut, Indonesia harus bisa menjawabnya, yakni masyarakat Indonesia harus memakai hasil sawit dalam negeri, sehingga bisa membuktikan, bahwa sawit Indonesia itu sangat bagus. Menurutnya, penggunaan isu tertentu memang dibolehkan dalam dunia perdagangan. (IS)




    Komentar :


    Isi Komentar :
    Nama :
    Website :
    Komentar
     
     (Masukkan 6 kode diatas)